Alternatif
Hukuman Anak Di Sekolah
Alhamdulillah di
sekolahan keponakan-keponakan saya ini tidak dikenal sanksi sanksi
yang ada ialah menghafalkan
ayat Al Qur'an, hadist, atau doa-doa (panjang pendeknya
ditentukan menurut
usia); membaca Al Qur'an dengan jumlah baris atau ayat tertentu;
Kedengarannya jadi
ironik.
Hukuman itu selalu
berasosiasi dgn sesuatu yang buruk, sesuatu yang
sebaiknya jangan
sampai diulangi lagi. Kalau mebaca Al Quran dibuat sebagai
hukuman, lambat laun
akan tertanam dalam alam bawah sadar (subconcious
mind) anak tsb bahwa
membaca al Quran adalah sesuatu yang tidak baik,
sesuatu yang harus
dihindari.
Mungkin yang punya
lata belakang psikologi pendidikan bisa menjelaskannya
secara lebih baik.
Sebelum membaca
tanggapan akhi Bogie saya tidak memperhatikan hal ini. Saya
setuju dengan akhi
Bogie, bahwa masalah hukuman dan ganjaran (punishment
and reward) harus
dikaitkan dengan tujuan mengapa hukuman hendak
diterapkan.
Susahnya dalam waktu
sekejap kita harus memilih perbuatan atau tindakan
hukuman yang hendak
dijatuhkan. Yang teringat adalah perbuatan yang hendak
kita tanamkan yang
lain, misalnya membaca Al-Qur'an. Jadi perbuatan baik
lainnya dijadikan
hukuman atau menurut saya "beban" tambahan karena lalai
melakukan perbuatan
tertentu yang sedang dikembangkan dalam proses
pendidikan, misalnya
bisa membaca dan menulis al Qur'an.
Aneka macam bentuk
hukuman yang pernah saya alami atau saksikan ketika saya
masih SD, saya ingat
anak yang kena hukuman supaya nulis halus (huruf abjad
dengan aturan
tertentu sehingga mudah dibaca), membawa potongan sapu lidi
untuk alat bantu
menghitung, sampai menimba air untuk menyiram tanaman.
Anak kena hukuman
karena tidak mengerjakan PR, berbicara dengan teman
ketika guru sedang
menerangkan di depan kelas, dipukul telapak tangan
dengan kayu
penggaris. Kadang-2 menjatuhkan hukuman bukan dalam konteks
pendidikan tetapi
tempat menumpahkan kekesalan atau sekedar iseng-2 & puas
melihat anak didik
jumpalitan dan tunduk-takut menghadap guru yang menghukum.
Wah ini menarik untuk
dikaji, maaf saya tidak siap menanggapi secara utuh.
Mungkin sejumlah
pertanyaan ini bisa memperluas kajian ini:
(1) apakah konsep
hukuman setiap guru terhadap suatu masalah sama?
(2) bagaimana guru
penerapkan hukuman pada anak didik? Apakah diabaikan
(3) apakah hukuman
efektif untuk setiap perbuatan?
(4) bagaimana kalau
diabaikan saja (ignored) perbuatan itu akan hilang?
(5) bagaimana kalau
perhatian pada perbuatan yang kita inginkan saja yang
diperhatikan, misalnya anak kecil bisa
bilang "Terima kasih" diberi pujian
tetapi kalau tidak mengucapkannya akan
dibiarkan tidak mendapat apa-apa,juga tidak dihukum.
(6) Apakah hukuman
itu harus berupa hukuman fisik? Anak saya kalau berbuat
tidak sesuai dengan yang kami harapan,
ibunya langsung menyruh dia
berhenti main untuk selanjutnya masuk kamar
untuk berfikir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar